Selasa, 07 Desember 2010

Tahun baru ini..perubahan ini...

Tahun baru ini, banyak perubahan yang terjadi. Baik diriku, keluarga ku, maupun disekelilingku termasuk bumi ini.
Menikah dan kuliah lagi tentu berbeda jika ku bandingkan tahun yang lalu. Rasa-rasanya jika dipikirkan terasa berat jika kuliah jauh dari suami, apalagi pengantin baru, itu sindiran dari temen2 baru ku di kampus UI. Tapi tetap harus dijalani, bagaimanapun perubahannya, keadaannya, waktu ini akan berlalu. Tentunya tidak hanya aku saja yang merasa seperti ini, ada banyak orang disana yg jauh lebih berat perjuangannya, namun mereka mampu, begitupun dengan aku, aku juga pasti mampu, insyalloh.
Buat calon anak ku..keturunanku..harapan ku...generasi pejuang-pejuang tangguh, lihatlah ibu mu dan ayah mu ini sedang berjuang. Semoga kelak engkau menjadi anak yang membanggakan agama, orang tua, keluarga dan bangsamu. amin..

Minggu, 25 Juli 2010

Sepenggal kisah "Sahabat Sejati"

Agar kebersamaan kelompok A ini tidak berakhir begitu saja, mohon teman-teman sudilah selalu berkirim kabar kepadaku, insya allah kabar dari kalian akan selalu aku rangkum untuk secara berkala aku kabarkan ke anggota kelompok A yang lain. Rekan –rekan bisa menghubungi aku lewat:
1. Telephone : 0274-9177766 atau HP: 081328289911
2. Surat ke alamat : Tebon XIV RT 03/31 Sidoluhur Godean Sleman
3. E-mail : widagdo.skep@yahoo.co.id
Mohon kalian berikan alamat kalian.


Sepenggal kisah senantiasa berganti dalam hidup ini. Episode “Pendidikan Profesi Ners” hampir berakhir. Akan ada kisah-kisah baru yang akan kita jalani. Sungguh berat melepas kebersamaan ini. Banyak suka duka telah kita jalani. Aku sebagai yang tertua telah lebih banyak menjalani episode kehidupan, saat ini merasa takut tuk kembali kehilangan. Kehilangan “sahabat-sahabat sejati” yang tak tergantikan.
Dalam kehidupanku aku pernah merasakan kebersamaan yang mendalam dalam episode kuliah “D-III keperawatan dan S 1 Keperawatan”. Segala kebersamaan yang telah kami jalani menjadi tak berarti lagi ketika kami terpisah jarak dan waktu. Hanya sedikit yang masih saling berkirim kabar. Sungguh tak banyak orang yang menghargai sebuah kenangan.
Para sahabat sejatiku: Arsi, Atul, Debi, Rahma, Nona, Zoom, kalian telah banyak memberikan warna dalam hidupku. Kadang kita sombong, kadang kita acuh, terkadang pula kita terlihat sebagai “anak manis” yang baik. Kadang kita bolos bareng-bareng, kompak ndak ngumpulin tugas ataupun kebengalan-kebengalan yang lain. Yakinlah, itu semua sebagai sebuah tahap perkembangan yang harus kita lalui dalam masa “dewasa muda” yang mana tahap ini terlupakan oleh teori Erikson.
Sebagai laki-laki mungkin aku tegar, tapi yakinlah sejujurnya terkadang aku menangis, berlinang air mata ini. Tidak karena tersia-sia atau kecewa oleh wanita ataupun tersakiti perasaan oleh orang lain. Bukan, bukan itu yang membuatku tersentuh. Tapi “persahabatan” lah yang dapat membuatku tersentuh. Keikhlasan sahabat untuk berbagi suka maupun duka adalah sembilu yang menyayat hatiku. Jujur saja aku selalu meneteskan air mata tiap kali mendengar lagu SHEILA ON 7 dari Mp-3 komputer bututku ataupun computer tempat kerjaku yang berjudul “Sahabat Sejati”.
Sahabat sejatiku hilangkah dari ingatanmu dihari kita saling berbagi. Dengan kota sejuta mimpi aku datang menghampirimu. Tuk perlihatkan semua hartaku. Kita slalu berpendapat kita ini yang terhebat. Kesombongan dimasa muda yang indah. Aku raja kaupun raja, aku hitam kaupun hitam. Tapi teman lebih dari sekedar materi. Pegang pundakku jangan pernah lepaskan. Bila ku mulai lelah, lelah dan tak bersinar. Remas sayapku jangan pernah lepaskan. Bila ku ingin terbang, terbang meninggalkanmu. Aku slalu mengekangmu, kaupun slalu menyanjungku. Aku dan kamu darah abadi. Demi bermain bersama kita luangkan sgalanya. Merdeka kita, kita merdeka…………….
Harapanku episode “Pendidikan Profesi Ners” ini menjadi suatu rangkaian awal dari sebuah kisah panjang berikutnya, meskipun 7 tokoh utamanya akan menjadi tokoh-tokoh baru dalam kisahnya masing-masing. Satu pintaku, jangan lupakan aku yang di Jogja, kota yang telah memberimu banyak kenangan, kota yang telah menjadi tempat pengambilan gambar dalam perjalanan hidupmu sejak 2003 bahkan 2002 untuk Zoom. Aku mohon dengan sangat untuk kalian selalu berkirim kabar, syukur secara berkala selalu mengabarkan segala keadaan maupun kisah baru yang telah kalian jalani. Aku punya keyakinan dari kelompok kita ini aka muncul orang-orang sukses, aku belum tau siapa itu meskipun aku sudah dapat menebaknya. Ingatkah kalian bahwa kita selalu ada dalam bayang-bayang angka “3”. Berawal dari IP kita yang semuanya diatas 3, ada 3 perempuan dalam setiap kelompok kecil kita, ada 3 wanita berjilbab besar (sunah) dalam kelompok kita, ada 3 orang yang kebangetan suka bolosnya, ingatkah kalian ada 3 orang pula yang suka nggak ngumpulin laporan. Yang palim ekstrim kita mulai pendidikan profesi pada tanggal 3 dibangsal kelas III dan berakhir pula pada tanggal 3 setelah jam 3 sore. Tepat 1 tahun 1 bulan kita jalani episode ini.
Dari semua stase yang kita jalani, sepertinya stase “Jiwa” yang paling berkesan bagi seorang Agus Haryanto Widagdo. Bukan karena aku berkecimpung di keperawatan jiwa, tapi disitulah aku bisa melihat karakter sesunguhnya dari teman-teman. Aku bisa melihat bagai mana kalian bersikap ketika menghadapi berbagai persoalan yang menjadi kompleks saat kita stase “Jiwa”. Kecerdasan emosilah yang banyak berperan saat itu. Namun ku akui terkadang “kecerdikan” juga dapat menyelamatkan kita.
Pesanku buat Nona agar lebih bisa mengendalikan diri. Kontrol emosimu cukup baik ketika di stase klinik, namun nampak kurang control ketika di stase jiwa. Nampak kamu kurang mempu menghadapi masalah yang kompleks. Untuk Debi dan Rahma kalian juga ndak percaya diri untuk mengambil sebuah keputusan penting ketika banyak persoalan menghadang anda. Di stase jiwa itu nampak sekali dari kalian. Bagi Atul, kepolosanmu terkadang bikin teman tidak lagi bisa mengelak dari kejaran dosen. Zoom, ternyata kamu lihai juga untuk membolos……… Paling banyak bolos tidak ketahuan adalah Zoom dan Nona, baru aku yang nomor tiga. Zoom, Nona, bisa-bisanya kalian ndak ngumpulin laporan pada 2 perseptor!!! Arsi, menurutku tipikal paling dekat dengan tipe ku. Kadang kami diselamatkan oleh sebuah kecerdikan dan kebolehan bersilat lidah…..

“Masa lalu adalah yang mendewasakan dirimu, tapi masa lalu janganlah membebani dirimu. Masa depan adalah impian, orang yang tidak punya impian adalah orang tanpa masa depan”

Jumat, 09 Juli 2010

nasihat...

"Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN. Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar KEIKHLASAN. Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kau sedang belajar MEMAAFKAN. Ketika kua harus lelah dan kecewa maka saat itu kau sedang belajar tentang KESUNGGUHAN. Ketika kau merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETANGGUHAN. Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung maka saat itu kau sedang belajar tentang KEMURAHAN hati "
nasihat dari Ibu Ria.....

Senin, 05 Juli 2010

PEMIMPIN

Tiga anak remaja tampak bersemangat berjalan beriringan dengan ayah mereka di sebuah jalan desa yang dikelilingi tumbuhan nan hijau. Sesekali, mereka tampak berhenti sebentar untuk istirahat, kemudian berjalan lagi.

Di sebuah pertigaan jalan, tiba-tiba mereka berhenti. Salah seorang dari mereka berujar, “Yah, kita ke arah mana?”

Yang ditanya tidak langsung menjawab. Sang ayah seperti memberi ruang kepada anak-anaknya untuk berekspresi. “Menurut kamu, kira-kira kemana?” ujar sang ayah kemudian.

Gaya sang ayah yang mereka cintai ini memang bukan hal baru buat mereka. Selalu saja, sang ayah akan melempar balik sebuah pertanyaan yang sangat berkait dengan kematangan analisa dan pengalaman.

“Kayaknya ke kiri deh, Yah!” ucap si bungsu tiba-tiba. Ia juga menjelaskan kalau jalan ke kiri itu jalan menuju puncak bukit yang mereka tuju. Tapi, si bungsu masih belum yakin.

“Kalau menurutku, ke kanan!” ucap si sulung kemudian. “Coba lihat beberapa petani yang memikul hasil panen mereka. Mereka datang dari arah kanan kita kan! Itu artinya, mereka tidak mungkin membawa hasil panen mereka ke bukit, tapi ke arah pasar yang letaknya pasti di bawah,” jelas si sulung begitu argumentatif.

“Menurutmu gimana, Nak?” tanya sang ayah ke anak yang tengah. Ia tampak berpikir sebentar, dan kemudian mengangguk-angguk. “Aku setuju dengan yang arah kanan!” ucapnya kemudian. Mereka pun berjalan menuju arah kanan.

Tiba-tiba, si bungsu berucap dalam sela-sela perjalanan mereka yang tampak begitu mengasyikkan. “Yah, kenapa sih tidak ayah kasih tahu aja. Kan ini bukan yang pertama kali ayah menuju bukit itu?”

Tiba-tiba langkah sang ayah berhenti, yang kemudian diikuti oleh ketiga anaknya. Ia menarik nafas dalam untuk selanjutnya menatap ketiga anaknya dengan senyum. “Anakku,” ucap sang ayah. “Ayah menginginkan kalian kelak menjadi pemimpin yang baik, bukan sekedar pengikut yang baik,” ucap singkat ayah yang kemudian diiringi dengan langkahnya.

**
Dalam dinamika organisasi yang sehat, dalam bentuk apa pun sebuah organisasi, seorang pemimpin yang baik bukan berarti orang yang piawai menelorkan pengikut-pengikut yang setia (taqlid).

Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang mampu menyiapkan pemimpin-pemimpin baru yang akan menggantikannya esok. (muhammadnuh@eramuslim.com)

Jumat, 30 April 2010

Menanti kabar yang tak pasti...

Lari dan lepas segala impian
Akan indahnya hari depan
Nikmatnya kedamaian yang kudambakan
Masih tetap impian
Kini kuberpijak di persimpangan
Tanpa arah pasti kujelang
Tak pernah ku mengerti
Arti kedamaian
Yang pernah kau janjikan
.........(Go)

Selasa, 30 Maret 2010

sini sayang....

Seorang anak laki enam tahunan tampak berlari menjauh dari rumahnya. Beberapa saat sebelumnya, suara kaca pecah sempat menghentikan kesibukan orang-orang di sekitar rumah. Ada penjual jamu, tukang sayur yang lewat, beberapa orang yang berlalu lalang. Mereka menoleh sebentar, dan berujar pelan, "Ah, anak itu lagi!"

Perilaku nakal anak itu ternyata bukan pemandangan baru buat orang-orang yang kerap berada di sekitar rumah. Hampir tiap hari, bahkan bisa tiga kali sehari, anak itu melakukan kegaduhan. Dan kegaduhan itu selalu terjadi di sekitar rumahnya. Mulai suara gelas yang pecah, dobrakan pintu, dan yang baru saja terjadi, pecahnya kaca jendela.

Seperti biasanya, seorang ibu keluar sesaat setelah anak nakal itu berlari menjauh dari rumah. Sambil memanggil-manggil sang anak, ibu itu tidak memperlihatkan rona marah yang membara. Tidak juga berteriak-teriak mengancam, umumnya seorang yang memendam kesal. Ia hanya memanggil-manggil nama anaknya dan dua kata setelahnya, "Sini sayang!"

Kali ini, sang anak tidak seperti biasanya yang terus berlari menjauh. Ia berhenti. Ia menoleh ke arah suara yang memanggil-manggil namanya. "Ibu," desisnya pelan. Wajah kesalnya tiba-tiba pudar berganti penyesalan. Dan ia pun membiarkan dirinya dihampiri seseorang yang ia sebut ibu.

"Nak!" suara sang ibu sambil tangan kanannya meraih rambut sang anak. Tangan itu pun membelai lembut rambut sang anak.

"Bu, ibu nggak marah?" suara sang anak sambil wajahnya mendongak menatap wajah sang ibu. "Anakku, kenapa ibu harus marah?" jawab sang ibu singkat.

Sang anak pun tiba-tiba mendekap ibunya yang agak membungkuk mensejajarkan diri dengan anaknya. "Bu," suara sang anak tiba-tiba. Sambil terus membelai rambut sang anak, wajah sang ibu makin memperlihatkan senyumnya yang sejuk di mata anaknya. "Ada apa, sayang?" ucap sang ibu lembut.

"Kenapa ibu bisa seperti ini? Padahal aku sudah begitu nakal?" tanya si anak yang mulai mengendurkan dekapannya.

"Anakku," ujar si ibu. "Inilah cinta!" lanjut suara sang ibu sembari tetap menampakkan senyum lembut kepada anaknya.

***

Begitu banyak tingkah nakal anak-anak manusia di bumi ini. Begitu banyak kerusakan yang mereka tampakkan sehingga kehidupan menjadi gaduh. Orang-orang yang kebetulan berada di sekitar kegaduhan pun ikut merasakan gangguan-gangguan itu.

Tapi, bersamaan dengan tingkah nakal itu, selalu muncul suara-suara lembut yang memanggil-manggil anak manusia untuk kembali. Seolah, suara panggilan itu mengatakan, "Kembali, sayang!"

Padahal, anak-anak manusia yang nakal itu sedikit pun tidak sebanding dengan kegagahan gunung yang menjulang, kedahsyatan halilintar yang siap menyambar, kekokohan susunan bebatuan bumi yang begitu mudah menghimpit makhluk yang hidup di atasnya. Belum lagi dengan kedahsyatan terjangan ombak samudra yang bisa berubah drastis menjadi begitu menyeramkan.

Tapi kenapa, justru suara lembut yang selalu memanggil-manggil dari balik menjauhnya anak-anak manusia yang nakal.

Cinta. Itulah mungkin sebuah jawaban yang pas. Seperti yang diucapkan sang ibu kepada anaknya, "Cinta anakku!" Atau dalam bahasa yang lain, seperti yang diucapkan oleh Yang Maha Sayang, "Warahmati wasi'at kulla sya'i, cinta-Ku meliputi segala sesuatu!"

Sayangnya, belum semua anak manusia mau menyimak sapaan kembali dan mencoba menengadah untuk membalas cinta dari Yang Maha Sayang. (muhammadnuh@eramuslim.com)

Rabu, 17 Maret 2010

yah udah maret...

yah... udah bulan maret...kok cepet bgt ya...aku bingung mau nulis apa ^-^
pokoknya bulan ini bnyk kerjaan, "sok sibuk", sampek gk kpikiran ibu...duh ibu ku...aku kangen bgt...aku minta maaf ya Bu....aku akan kembali kelak, memberikan senyum terindah, tapi maaf kalau aku dengan menggandengnya.... ^-^